Senin , November 18 2019
Breaking News
Home / Profil / Sejarah

Sejarah

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Thoriqul Huda

Pondok Pesantren Thoriqul Huda terletak di desa Cekok Babadan Ponorogo, yang mana pondok ini dibangun di atas sebidang tanah seluas + 150 M2, dulunya merupakan pondok yang mengajarkan ilmu kanuragan yang konsentrasi dalam ilmu bela diri, kemudian daripada itu sedikit demi sedikit juga dimasukkan ilmu-ilmu syari’at, ‘ubudiyah serta pembelajaran Al-Qur’ân hingga saat ini yang dipimpin langsuh oleh pengasuh. Seiring dengan berputarnya waktu dan atas dorongan masyarakat akhirnya pondok Pesantren ini mengalami perkembangan dalam sistem pembelajarannya. Pada awalnya, sistem pembelajaran yang di berlakukan di pondok ini adalah sistem klasikal, namun belum terstruktur dengan rapi kepengurusannya, pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan di serambi masjid, dan segala yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran dan pengajian dipimpin langsung oleh pangasuh. Kemudian selang bebarapa tahun kemudian karena semakin bertambahnya jumlah santri struktur dan kurikulum pengajian direkonstruksi ulang sehingga mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat untuk menitipkan putra-putrinya belajar di pondok pesantren Thoriqul Huda. Pada masa ini prosedur dan struktur pelaksanaan pembelajaran mulai tersusun dengan rapi, misalnya penambahan kurikulum pesantren, dan sistem pembelajaran mulai diberlakukan, hingga berdirinya madrasah diniyah Taslimul Huda Thoriqul huda yang saat ini jumlah santri putra dan putri sekitar seratus 30 santri baik putra maupun putri.

Sekitar tahun 1915 M. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Thoriqul Huda mulai dirintis dan berbenah diri. Semua bermula dari nol hingga sedikit demi sedikit mengalami kemajuan. Hingga sampai sekarang sudah mengalami tiga periode, yang perinciannya sebagai berikut:

  1. Tahun 1915 M sampai dengan 1970 M.

Periode pertama ini di bawah pengasuh seorang  Kyai yang bernama Kyai Dasuki. Jumlah santri sekitar 50 anak, meliputi santri putra dan putri. Karena baru berdiri sekaligus mulai dirintis dan berbenah diri, maka keadaannya masih sangat sederhana. Mulanya para santri belum punya pondok tempat bermukim sehingga masih ikut di rumah bapak  kyai dan rumah-rumah para tetangga sekitar pondok. Setelah melalui jerih payah dan pengorbanan yang begitu besar dapat mendirikan satu lokal sebagai penampungan santri dan daya kuantitasnya dapat menampung santri sekitar 50 anak.

Pembangunan Pondok merupakan hasil swadaya sendiri. yaitu dengan melibatkan santri dalam mendirikan bangunannya. Sedangkan sumber dana yang diperoleh adalah berupa waqafan dari masyarakat dan sebagian usaha sendiri untuk melengkapi kekurangannya. Lepas dari masalah bangunan, sistem pengajiannya berlangsung secara kontinyu. Pada mulanya pengajian dipusatkan di serambi masjid, yang bernama masjid Syuhada. Sedang jalannya pengajian diasuh langsung oleh Kyai dan di bantu beberapa ustadz, meliputi pengajian Al qur’ân dan kitab-kitab salafiyah.

Setelah selang beberapa tahun, berkat kerja keras dan tekad yang tinggi akhirnya mampu mendirikan bangunan lagi sebagai majelis ta’lim (tempat belajar) yang digunakan hingga sekarang.

Kondisi dan aktifitas seperti ini terus berlangsung hingga sekitar tahun 1970, di mana kyai Dasuki sudah memasuki usia lanjut yang harus banyak istirahat. Oleh karna itu secara keseluruhan berbagai bentuk kegiatan pondok  diteruskan oleh pengasuh pondok berikutnya.

  1. Tahun 1970 M sampai dengan 1981 M.

Pada periode kedua ini di asuh seorang kyai yang bernama Kyai Badaruddin. Beliau adalah menantu dari Kyai Dasuki, walaupun keadaan pondok belum banyak mengalami kemajuan, namun sejumlah santri sudah bertambah dua kali lipat, yaitu sekitar 100 santri, di bawah asuhan Kyai Badaruddin ini Pondok semakin banyak mengalami kemajuan dan makin mantap dalam melangkah, hingga mampu menambah satu lokal pondok lagi.

  1. Periode 1981 – 2015 (26 Desember 2015)

Pada periode ketiga ini di asuh oleh Kyai Fahruddin Dasuki, beliau lahir pada tahun 1939 M, dari pasangan Kyai Dasuki Bin Kyai Hasan Ulomo (salah satu pengikut Panglima Diponegoro dari Banyumas kemudian menetap dan dimakamkan di ds. Menang, Jambon, Ponorogo) dan Ibu Nyai Rufi’at Putri dari Ibu Nyai Khadijah Binti Kyai Sabarudin Josari Jetis. Kyai Fahruddin di masa kecilny sering diajak ayahnya mengikuti pertemuan-pertemuan NU dari pondok ke pondok bersama para Kyai yang pada saat itu pimpinannya adalah Kyai Abu Daud dan Kyai Syamsuddin dari Pondok Pesantren Durisawo. Yang pada masa itu pertemuannya masih memakai kendaraan dokar. Setelah beliau menamatkan SR yang sekarang menjadi SD Ma’arif Ponorogo pada tahun 1942 M. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Tebuireng yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Idris dari Cirebon, di masa itu pula beliau ketemu para santri yang sepulang dari pondok menjadi tokoh di Ponorogo seperti KH. Muhayatsyah, KH. Mujab Thohir, dan KH. Muhsin Sofwan. Beliau belajar di Tebuireng mulai I’dat satu tahun, Tsanawiyah tiga tahun, Aliyah tiga tahun dan Dirosa Ula (setingkat universitas cikal bakal dari UNHASY) empat tahun, dan selama di Tebuireng beliau juga setiap malam jum’at mengikuti pengajian (kalongan) pada KH. Sahlan (kyai Khos) Sidomukti, Sidoarjo. Pada masa itu juga beliau tabarrukan dengan mengikuti pengajian yang diadakan oleh KH.Adlan Aly Cukir Jombang. Kemudian pada tahun 1963 M. Kyai Fahrudin pulang dari pesantren Tebuireng dan pada tahun 1965 dipanggil untuk kembali lagi ke Pesantren oleh Kyai Kholiq Hasyim bersama para santri lainnya yang sudah pulang untuk ikut serta berjihad melawan dan memberantas Gerakan Komunis (G30.S/PKI). Dari situ pulalah beliau diberi amanah untuk melanggengkan syahadah istighotsah asli dari ijazah Kyai Hadrotusyech Hasyim Asy’ari.  Setelah Kyai Fahruddin selesai menjalankan tugas melawan komunis bersama para santri yang lain, beliau pulang ke Ponorogo dan melanjutkan nyantri pada KH. Muhayatsyah nglaju dari rumah selama dua tahun bahkan beliau sempat khidmah tafa’ulan kepada KH. Muhayatsyah selama dua tahun.

Adapun pernikahan Kyai Fahruddin dan Ibu Nyai Munjiatin di karunia 4 putri, yaitu:

  1. Neng Qurrata A’yun (1970) Istri dari Gus Mahmudin Sholeh (1971) yang sekarang berkhidmah di PCNU Ponorogo dan PP. Thariqul Huda
  2. Neng Idaratul Muhimmah (1974) istri dari Gus Kholid Ali Husni (1972), berkhidmah di PCNU Ponorogo dan PP.Thariqul Huda.
  3. Neng Fadhilatul Af’idah istri (1979) istri dari Gus Mohammad Ali Wafa (1972), yang sekarang mengurusi suatu usaha yg bergerak dalam bidang perumahan, dan juga berkhidmah mensupport dalam urusan pembangunan PP.Thoriqul Huda.
  4. Neng Anshoffy Murtafi (1988) istri dari Gus Aan Zainul Anwar (1985), pernah berkhidmah di salah satu lembaga PCINU Mesir dan di LTN PBNU Pusat dan sekarang berkhidmah di UNISNU Jepara.

Kemudian pada hari Sabtu, 26 Desember 2015  jam 04.00 menjelang waktu Subuh, kyai Fachruddin dipanggil menghadap Sang Penggenggam Hidup, berarti purna sudah tugas suci beliau menjadi hamba Allah yang menghidmahkan diri di bumi Allah ini. Semoga seluruh dosanya di Ampuni Allah, seluruh amal kebaikannya diterimaNya, jasa jasa beliau dalam menuntun ummat di jalan Allah selalu menjadi amal jariyah yang tak terkira pula serta diberi akhir hayat yang Husnul Khotimah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Selamat jalan Kyai Fahruddin semoga jasa jasa beliau diabadikan dalam catatan anak adam sepanjangang masa, amal jariyah yang tak pernah putus serta doa tulus ikhlas dari kami anak cucu beliau yang selalu kami langitkan dan semoga harapan dan impian beliau bisa kami laksanakan ialah untuk membesarkan amanah berharga yaitu Pondok Pesantren beserta para santri dan jama’ah pengajian ahad pagi tetap berjalan sepanjang masa dan semakin istiqomah. Kami anak cucu beliau semoga selalu diberikan ketabahan yang luar biasa dan kerukunan untuk menjaga keutuhan keluarga besar PP.Thoriqul Huda. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Kyai Fahruddin Dasuki adalah salah penggagas nama Pondok Pesantren Thoriqul Huda (yang disingkat PPTH) yang berarti jalan petunjuk yang Sebelumnya PPTH masih berwujud pondok yang belum bernama dan belum teratur sistem pengajarannya.

Beliau sangat menekankan agama Islam yang kaffah dan rahmatan lil alamiin, artinya pondok ini menekankan terhadap tauhid dan pentingnya hidup bermasyarakat. Beliau menuturkan bahwa kita harus menjadi seorang muslim yang mu’min dan bertauhid agar bisa selamat dunia dan akhirat. Muslim belum cukup, jika belum mu’min dan mu’min belum cukup, bila belum bertauhid. Dalam masalah pentingnya hidup bermasyarakat, beliau menuturkan bahwa kita nanti akan mengalami suatu keadaan yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan di pesantren, sebuah kehidupan yang sangat membutuhkan kekuatan iman yang sangat kuat, yaitu kehidupan masyarakat yang kompleks dan beragam .

  1. Periode 2015- sampai sekarang

Pada periode ini kepengasuh pondok pesantren thoriqul huda dilajutkan oleh bunyai munjiyatin dibantu oleh empat menantunya. Yaitu Gus Mahmudin Sholeh, Gus Kholid Ali Khusni, Gus Ali Wafa, dang Gus Aan Zainul M.  Semoga alloh SWT senantiasa memberikan taufiq rahmat dan hidayahnya kepada beliau-beliau dan kita semua. semoga pondok thoriqul huda dapat terus menerus melanjutkan perjuangan pendahulu-pendahulunya  dalam mencetak kader-kader bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Aamiin