Jumat , April 3 2020
Home / Pojok Santri / Peradaban Pondok Pesantren

Peradaban Pondok Pesantren

Dahulu, walisongo adalah penggagas pertama berdirinya pondok pesantren. Sebelumnya Walisongo menggunakan sebuah gagasan berupa sistem pendidikan dukuh yang ada pada masa Hindu dan Budha. Walisongo mencetuskan sistem pendidikan ini sebagai blueprint dalam syiar ajaran islam di Nusantara. Namun penggunaan istilah yang berbeda dengan yang asli, yaitu dukuh meskipun sistem pendidikannya sama. Walisongo menyebutnya dengan istilah “Pondok Pesantren”. Pondok pesantren mempunyai terminologi, pondok berasal dari kata bahasa Arab yakni funduq yang berarti sebuah tempat untuk bermalam atau menginap. Sedangkan pesantren adalah tempat para santri, santri berasal dari kata shastri dalam bahasa india berarti orang memperlajari kitab-kitab suci. Jadi pondok pesantren adalah tempat orang-orang yang mendalami ilmu agama.

Menurut beberapa tokoh, gagasan pengembangan pondok pesantren adalah sebuah ikhtiar para Walisongo untuk proses islamisasi yang dahulu bermula di tanah Jawa. Upaya islamisasi ini sebagai pemindahan lembaga atau pusat pendidikan Syiwa dan Budha, yang dimasa itu dianut oleh masyarakat Jawa khususnya. Dari gagasan tersebutlah mulai titik sebagai batu loncatan Walisongo men-syi’arkan agama islam ke berbagai penjuru wilayah termasuk islamisasi kepada kasta-kasta. Mulai dari kasta raja, ksatria, sudra dan masyarakat biasa.

Gagasan ini berjalan baik karena banyak dari kalangan Syaikh dan musyid-mursyid mereka. Kemampuan mereka yang baik dapat mempersatukan nilai-nilai sosial kultural dengan religius yang populer dimasa itu. Hal ini menjadi suatu formula rapi dengan menyusupi unsur-unsur keislaman dalam kegiatan sosial kultural masyarakat. Kesuksesan walisongo ini, khususnya dapat mentransformasikan dalam bidang ketauhid-an Syiwa-Budha dengan ajaran tauhid Islam.

Berbeda dengan keadaan sekarang, mayoritas Pondok Pesantren pada masa lalu lebih tertarik kepada daerah-daerah yang terasing dari keramaian penduduk. Hal ini dimaksudkan agar para santri yang belajar ilmu agama dapat belajar dengan tenang dan lebih fokus tanpa ada gangguan dari masyarakat. Banyak kita lihat, petilasan-petilasan bekas tempat belajar atau pondok berada diatas bukit, bahkan di pegunungan. Demikian hal ini merupaka pegaruh dari Karsyan dan Mandala, yaitu sebuah penempatan lokasi yang salah satunya adalah sebuah nama gunung yang terkenal keramat. Contoh pesantren besar yang didirikan di wilayah pegunungan adalah seperti Pesantren Sunan Muria di Gunung Muria, serta Girikedhaton di perbukitan Giri Gresik Jawa Timur. Bukti-bukti sejarah ini merupakan sebuah paparan upaya islamisasi di Nusantara oleh para Walisongo. Dan peran pesantren tak hanya sebagai pencetak sejarah perkembangan Islam, melainkan juga berperan penting sebagai dinamisator dalam setiap fase sejarah serta perjuangan bangsa dan negara.

Sejarah Islam di Nusantara adalah sejarah perluasan sejarah peradaban santri serta pengaruhnya terhadap kehidupan sosial masyarakat, politik kenegaraan, dan tentunya terhadap kehidupan beragama. Islam membuat sebuah pondasi peradaban baru, dimana sistemnya yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat tanpa adanya sekat kasta. Sistem ini terbentuk berdasarkan atau merupakan sebuah konsekuensi dari penerapan konsep ummah dalam ajaran Islam yang egaliter serta menyamaratakan harkat dan martabat seorang manusia di hadapan Tuhan Sang Pencipta.

Penulis : Moch Irfan Achfandhy
Tulisan ini adalah hasil dari refleksi buku Said Aqil Siroj, yang berjudul “Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara Menuju Masyarakat Mutamaddin” Jakarta Pusat: LTN NU tahun 2015.

About Pengurus PPTH

Check Also

Peranan Ilmu dan Amal

Ilmu adalah karunia paling berharga yang diberikan Allah kepada manusia. Kemuliaan ilmu ini banyak ditegaskan …

Tinggalkan Balasan