Selasa , September 22 2020
Home / Pojok Santri / Pendidikan Klasik di Indonesia

Pendidikan Klasik di Indonesia

Catatan memori, 10 November 1945 Kota Surabaya yang hijau berubah menjadi Kota merah pekat dipenuhi dengan darah pahlawan yang berceceran dan memerahi sepanjang sudut Kota Surabaya selama tiga minggu. Perang besar sepanjang sejarah Indonesia salah satunya perlawanan Bung Tomo dan arek-arek Kota Surabaya, peperangan sengit Bung Tomo dan arek-arek Kota Surabaya melawan pasukan Inggris yang dipimpin oleh Jendral Mallaby, Inggris yang notabene merupakan pemenang Perang Dunia kedua dipaksa bertekuk lutut atas perlawanan Bung Tomo dan arek-arek Surabaya. Sebelumnya, pada 21-22 oktober 1945 wakil-wakil dari seluruh cabang NU diseluruh di Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya yang dipimpin langsung oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Para ulama’ mendeklarasikan perang kemerdekaan melawan Inggris ini sebagai perang suci alias jihad, setelah itu ribuan kyai dan santri bergerak ke Surabaya.  Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah resolusi jihad, dari peristiwa itu ditetapkan setiap tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi 2015 kemarin.

Selain sebagai Hari Resolusi Jihad, 22 oktober atau Hari Santri yang baru 4 tahun lalu ditetapkan ini, mempunyai makna tersendiri bagi kalangan para kyai dan santri, kemerdekaan yang sekarang kita rasakan salah satunya adalah hasil jerih payah para tokoh Kyai dan para santri. Rasa nasionalisme yang mendarah daging didalam jiwa dan semangat pantang menyerah mengusir penjajah, memberikan pelajaran bagi santri di era sekarang. Rasa  nasionalisme santri hubbul waton minnaliman sebagai interpretasi dari nilai-nilai pancasila, hal inilah yang selalu diajarkan oleh para kyai kepada santrinya.

Selain itu, Hari Santri 2019 ini terekesan lebih istimewa dari hari santri tahun lalu. Kado istimewa ini datang dari DPR RI beserta Presiden, secara besama-sama mengesahkan  Undang-undang  Pesantren pada sidang paripurna 23 September 2019, yang memuat 10 bab dan 42 pasal. Poin-poin penting yang diatur dalam UU Pesantren yakni fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, norma-norma umum penyelenggaraan pesantren, rukun pesantren dan jiwa pesantren (ruhul ma’had). “Selanjutnya, pendidikan pesantren sebagai bagian pendidikan nasional, pengeloalaan data dan informasi pesantren disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan kekhassan pesantren, pendanaan bagi penyelenggara pesantren, kerjasama pesantren dengan lembaga lain hingga partispasi masyarakat.” (Dikutip detik.com)

UU Pesantren ini merupakan wujud terimakasih Pemerintah terhadap Pesantren, Karena Dunia Pendidikan Indonesia berhutang besar kepada Pesantren, sebab sebelum ada pendidikan formal sekarang yang kita kenal, Pesantren telah menjadi lembaga pendidikan yang diterapkan luas di Indonesia. Pendidikan karakter yang sekarang sedang diterapkan pemerintah  di Sekolah formal, telah menjadi pendidikan inti di Pesantren selama berabad-abad. Pengayaan Adab atau tatakrama sebelum belajar adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Pesantren.

Bukan hal yang aneh jika seorang santri harus berkhidmat atau Ta’dim kepada Kyai selama bertahun-tahun tanpa sedikitpun belajar tentang kitab. Karena Kyai bertujuan untuk membentuk adab atau tatakrama sang santri sampai merasa siap untuk menerima ilmu. Karena pendidikan bukan hanya Ta’lim (pengajaran) tetapi juga Ta’dib (pembentukan adab/karakter).

Jika sekarang Sekolah Modern/Formal sekarang telah beramai-ramai back to nature, maka Pesantren sejak dulu telah bersatu dengan alam Masjid, Asrama, Kebun, Sawah yang selalu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan lingkungan Pesantren. Kegiatan Ngaji tak hanya terbatas di Majelis, tetapi juga menggarap lahan Perkebunan, Persawahan, Perternakan bahkan ada juga yang sampai Berdagang. Karena memelihara dan melestarikan lingkungan serta hidup bersosialisasi dengan masyarakat sekitar adalah bagian dari pendidikan di pesantren. Santri disebar keberbagai wilayah bukan hanya untuk berceramah tapi untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, bersiosialisasi, melestarikan budaya dan adat istiadat. Pesantren mengajarkan agama sampai ke intinya yaitu Rahmatan lil alamin. Memperjuangkan kemanusiaan, mentolerasi perbedaan dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Maka dari itu, Pendidikan Indonesia berhutang besar terhadap Pesantren, yang telah medidik pemuda Indonesia dengan pendidikan yang berazaskan Pancasila. Ideology pancasila bahkan telah mendarah daging didalam jiwa santri sehingga membentuk karakter pemuda yang Pancasilais. Sehingga, sikap saling toleransi, cinta tanah air dan sipiritualis terhadap semua masyarakat Indonesia tanpa memandang perbedaan akan mempersatukan kedaulatan NKRI.

Penulis : M. Irfan Achfandhy  (PPTH)

 

About Pengurus PPTH

Check Also

Peranan Ilmu dan Amal

Ilmu adalah karunia paling berharga yang diberikan Allah kepada manusia. Kemuliaan ilmu ini banyak ditegaskan …

Tinggalkan Balasan